Minggu, 14 Desember 2025

Saat Ilmu Bertemu Aksi – Ekstrakurikuler Palang Merah Remaja SMAS Muhammadiyah 2 Singaraja

Saat Ilmu Bertemu Aksi – Ekstrakurikuler Palang Merah Remaja SMAS Muhammadiyah 2 Singaraja

Sorot Jendela

 

(Bersama Guru Pendamping Ekstrakurikuler, Mahasiswa Asistensi Mengajar & Anggota PMR)

    Ekstrakurikuler Palang Merah Remaja (PMR) di SMAS Muhammadiyah 2 Singaraja merupakan salah satu program pembinaan yang bertujuan untuk mengembangkan karakter peserta didik melalui kegiatan kemanusiaan, keterampilan pertolongan pertama, kedisiplinan, serta pembiasaan sikap tanggap dalam menghadapi berbagai situasi darurat. Adanya ekstrakurikuler PMR di sekolah ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat belajar teori dasar mengenai kesehatan, mitigasi bencana maupun pertolongan pertama, tetapi juga mempraktikkannya secara langsung. PMR ini juga menjadi wadah bagi peserta didik untuk belajar keterampilan yang bermanfaat dalam kehidupan, seperti menolong teman yang sakit, menangani luka ringan, dan memberikan bantuan pertama ketika terjadi kecelakaan kecil. Kegiatan ini juga membantu siswa membangun karakter disiplin, bertanggung jawab, dan mampu bekerja sama dengan orang lain.

            Kegiatan PMR di sekolah dilakukan secara rutin dan teratur. Pada setiap pertemuan, siswa mendapatkan materi tentang dasar-dasar seperti contohnya pertolongan pertama. Materi tersebut kemudian dilanjutkan dengan latihan praktik, seperti cara membalut luka, menggunakan mitela untuk membantu patah tulang ringan, serta simulasi menangani korban pingsan. Siswa juga dilatih cara memeriksa kondisi korban, seperti cek napas, denyut nadi, dan tingkat kesadaran. Dengan cara belajar langsung sambil praktik, siswa menjadi lebih mudah memahami materi dan berani mencoba.

            Selain latihan, anggota PMR juga memiliki tugas piket di UKS setiap hari Senin saat upacara bendera. Pada kegiatan ini, dua atau tiga anggota PMR berjaga untuk membantu siswa lain yang merasa pusing, lemas, atau pingsan selama upacara. Tugas ini menjadi pengalaman nyata bagi anggota PMR untuk menerapkan pengetahuan dan keterampilan yang sudah dipelajari. Sedangkan untuk hari Selasa sampai Jumat tetap berjalan piket menjaga UKS dengan agenda mengecek kelengkapan obat – obatan dan memberikan perawatan sederhana kepada teman yang sakit di UKS misalnya, memberikan minyak kayu putih ketika siswa merasa mual atau kembung atau menyiapkan air hangat untuk membantu meredakan rasa sakit. Melalui rutinitas ini, sebagai anggota PMR mereka dapat belajar menghadapi berbagai kondisi nyata di lingkungan sekolah, sehingga pengalaman mereka tidak hanya sebatas teori atau simulasi. Mereka menjadi lebih peka terhadap kondisi orang lain, terbiasa bekerja dengan tenang dalam situasi yang membutuhkan penanganan cepat, dan mampu menerapkan langkah pertolongan pertama sesuai prosedur. Piket UKS ini memberikan kesempatan bagi anggota untuk belajar secara langsung, membangun rasa percaya diri, dan memperkuat kemampuan komunikasi ketika berinteraksi dengan siswa lain, guru dan staf disana. Dengan demikian, kegiatan piket ini menjadi bagian penting dalam pembelajaran yang memperkuat keterampilan anggota PMR secara menyeluruh.



(Dokumentasi Pendampingan Ekstrakurikuler)


        Saat pihak sekolah menerima Mahasiswa Asistensi Mengajar, semua Mahasiswa Asistensi Mengajar mendapatkan tugas untuk mendampingi ekstrakurikuler dan penulis sendiri mendapatkan tugas untuk mendampingi ektrakurikuler PMR. Pendampingan ini berupa pendampingan praktik penggunaan mitela, pendampingan pertolongan pertama maupun praktik mitigasi bencana dan juga evaluasi peserta didik saat praktik. Namun dalam pendampingan ini tentunya tetap ada guru pendamping ekstrakurikuler PMR yaitu Ibu Siti Khadijah Sabibi, S.Pd, sedangkan untuk Mahasiswa Asistensi Mengajar yaitu Wika Yosepha dari Program Studi Pendidikan Sosiologi dan Ni Ketut Alit Ariana Utami dari Program Studi Pendidikan Sejarah.

(Dokumentasi Praktik Mitigasi Bencana)

            Salah satu program Mahasiswa Asistensi Mengajar yang secara tidak langsung berkolaborasi dengan anggota PMR sekolah ini yaitu kegiatan sosialisasi mitigasi bencana yang dilaksanakan pada Kamis, 13 November 2025 dengan menghadirkan pihak BPBD Kab. Buleleng sebagai Narasumber. Sosialisasi ini bertujuan memberikan pemahaman kepada siswa tentang langkah-langkah yang harus dilakukan ketika menghadapi bencana seperti gempa. Dalam kegiatan ini, siswa belajar cara bersikap tenang, mengikuti prosedur evakuasi, serta melakukan tindakan penyelamatan diri dengan benar. Bagi anggota PMR, kegiatan ini juga membantu memperkuat pengetahuan tentang peran mereka sebagai tim yang ikut membantu evakuasi dan memberikan pertolongan pertama saat terjadi keadaan darurat di lingkungan sekolah. Melalui sosialisasi ini, siswa menjadi lebih siap, peduli, dan sadar akan pentingnya kesiapsiagaan menghadapi bencana.

            Walaupun kegiatan PMR berjalan cukup baik, masih ada beberapa tantangan yang dihadapi. Salah satu kendala yang sering muncul adalah kurangnya alat latihan, seperti spalk dan peralatan medis lainnya. Karena fasilitas masih terbatas, beberapa latihan dilakukan menggunakan alat sederhana seperti mitela. Selain itu, jadwal latihan terkadang berubah karena harus menyesuaikan kegiatan sekolah dan jadwal siswa lainnya. Hal ini menyebabkan sebagian anggota belum bisa hadir secara konsisten dalam setiap latihan. Meskipun begitu, semangat siswa untuk mengikuti PMR tetap tinggi. Banyak di antara mereka yang semakin percaya diri saat melakukan praktik pertolongan pertama dan merasa terbiasa saat bertugas di UKS. Perubahan sikap siswa juga mulai terlihat, seperti menjadi lebih peduli dengan kondisi teman dan lingkungan sekitar. Selain itu, rasa kebersamaan dan solidaritas antaranggota semakin kuat karena sering berlatih dan bertugas bersama.

            Secara keseluruhan, kegiatan PMR di SMAS Muhammadiyah 2 Singaraja memberikan dampak positif bagi siswa. Mereka tidak hanya belajar teori kesehatan, tetapi juga belajar bagaimana menerapkan keterampilan tersebut dalam kehidupan nyata. PMR menjadi tempat untuk melatih kerjasama, kepemimpinan, empati, kedisiplinan, dan keberanian dalam mengambil tindakan. Harapannya, kegiatan ini dapat terus berkembang dengan dukungan fasilitas yang memadai serta pembina yang aktif, sehingga PMR dapat menjadi ekstrakurikuler yang memberi manfaat besar bagi siswa dan lingkungan sekolah.

Penulis: Wika Yosepha

Mahasiswa Asistensi Mengajar Universitas Pendidikan Ganesha

Jumat, 12 Desember 2025

Siswa Unjuk Kemampuan Olah Vokal dan Ekspresi Lewat Lomba Baca Puisi dalam Rangka Bulan Bahasa Tahun 2025

Siswa Unjuk Kemampuan Olah Vokal dan Ekspresi Lewat Lomba Baca Puisi dalam Rangka Bulan Bahasa Tahun 2025

Sorot Jendela

 

Dalam rangka memperingati Bulan Bahasa pada Oktober 2025, Mahasiswa Asistensi Mengajar dari Universitas Pendidikan Ganesha berkolaborasi dengan SMAS Muhammadiyah 2 Singaraja untuk menyelenggarakan serangkaian lomba untuk memeriahkan Bulan Bahasa tersebut. Bulan Bahasa merupakan sebuah peringatan yang dilaksanakan setiap bulan Oktober sebagai wujud menghargai dan mengembangkan bahasa dan sastra Indonesia.

Salah satu cabang lomba yang mengutamakan olah vokal dan ekspresi siswa dalam Bulan Bahasa adalah Lomba Baca Puisi. Kegiatan ini menjadi bagian dari program kerja Pengembangan Implementasi Program Strategis (PIPS) yang berkaitan dengan literasi baca tulis. Lomba ini dirancang dengan tujuan meningkatkan minat siswa terhadap karya sastra Indonesia yang indah dan penuh makna. Serangkaian lomba ini dimulai dari pendaftaran peserta (15-27 Oktober 2025), pelaksanaan technical meeting (28 Oktober), pelaksanaan lomba (30 Oktober 2025), dan pengumuman pemenang pada puncak acara (31 Oktober 2025). Serangkaian kegiatan ini sepenuhnya dilaksanakan di SMAS Muhammadiyah 2 Singaraja.


Lomba ini diikuti oleh 2 siswa setiap kelasnya, sehingga total peserta adalah 6 siswa. Puisi yang dibacakan sudah ditentukan oleh mahasiswa, yaitu puisi dengan judul “Melawan Lupa Untuk Pemuda” karya Destin Juang Bagustin. Puisi ini dipilih karena di bulan yang sama, kita memperingati Hari Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 2025. Setiap peserta akan membacakan puisi yang sama sehingga mempermudah juri melakukan penilaian. Juri dalam lomba ini melibatkan Ibu Nazila Al-Khatib, S.Pd. selaku Guru Bahasa Indonesia dan Ni Wayan Karunia Wedani selaku Mahasiswa Undiksha yang tentunya memiliki pengalaman mumpuni dalam baca puisi. Ajang lomba baca puisi ini menjadi bukti nyata bahwa mahasiswa Universitas Pendidikan Ganesha mampu bekerja sama dengan Sekolah Mitra yaitu SMAS Muhammadiyah 2 Singaraja dalam kegiatan non-mengajar.


Para peserta menampilkan bakat mereka dengan sangat memukau, terlihat dari vokal dan ekspresi mereka yang sangat menjiwai. Puisi dengan tema pahlawan tersebut dibacakan dengan semangat membara dan berkesan bagi pendengarnya sehingga patut diapresiasi. Tak heran, para peserta sudah mempersiapkan diri dengan baik, menggunakan properti pendukung, hingga gestur tubuh yang memukau. Pemenang dalam lomba ini diraih oleh Mutia Dewi dari Kelas XII dengan vokal yang bulat dan ekspresinya yang mampu menghanyutkan hati. Semoga lomba ini menjadi langkah awal bagi para siswa untuk berekspresi lewat karya sastra.



Oleh: Sri Lusiana Br. Lumban Tobing

(Mahasiswa Prodi Pendidikan Sosiologi, Universitas Pendidikan Ganesha)


Kamis, 11 Desember 2025

Serunya Belajar Sosiologi dengan Kuis Roda Putar: Belajar Sambil Bermain

Serunya Belajar Sosiologi dengan Kuis Roda Putar: Belajar Sambil Bermain

Sorot Jendela

 



                      

Pembelajaran Sosiologi sering kali dianggap sebagai mata pelajaran yang penuh teori, konsep, dan istilah sehingga membuat siswa merasa cepat jenuh dan bosan (Devi, dkk. 2019). Terlebih lagi, banyaknya teori yang harus dihafal kerap membuat mereka merasa pusing tujuh keliling dalam memahami berbagai konsep sosiologi. Namun, melalui penggunaan media pembelajaran yang tepat, materi yang kompleks seperti penelitian sosial sebenarnya dapat dipelajari dengan cara yang jauh lebih menyenangkan dan bermakna. Salah satu media interaktif yang terbukti efektif adalah kuis roda putar (spin wheel) berbasis Wordwall. Media ini tidak hanya membuat pembelajaran terasa seperti permainan, tetapi juga mendorong siswa untuk berpikir kritis, aktif, dan berkompetisi secara positif.

Penggunaan kuis roda putar dalam pembelajaran materi penelitian sosial memberikan pengalaman belajar yang lebih hidup karena seluruh siswa kels X di SMAS Muhammadiyah 2 Singaraja terlibat langsung dalam proses tanya jawab yang interaktif. Ketika roda diputar, siswa merasakan antusiasme dan rasa penasaran terhadap pertanyaan apa yang akan muncul. Suasana kelas menjadi lebih menyenangkan, terlebih ketika siswa saling berebut untuk menjawab pertanyaan dengan cepat dan tepat. Kondisi ini mampu meningkatkan fokus dan memotivasi mereka untuk memahami materi, mulai dari langkah-langkah penelitian sosial, konsep etika penelitian, teknik pengumpulan data, hingga perbedaan antara data primer dan sekunder. Berbeda dengan menggunakan pendekatan metode ceramah yang cenderung pasif. Kuis roda putar memberikan kesempatan kepada siswa untuk terlibat aktif dan menunjukkan pemahaman mereka secara langsung.

Tidak hanya itu, media ini juga mampu menumbuhkan rasa percaya diri siswa kelas X. Mereka yang biasanya malu-malu atau ragu berbicara di depan kelas menjadi lebih berani karena suasana permainan membuat mereka proses menjawab kuis terasa lebih santai dan menyenangkan. Selain itu, semangat kompetisi yang sehat muncul ketika mereka berusaha menjadi yang tercepat atau yang paling tepat dalam memberikan jawaban. Perlahan-lahan, sikap aktif ini membentuk kebiasaan belajar yang lebih baik dan mendorong pemahaman materi yang sudah disampaikan secara mendalam.

Dari sisi pedagogis, penggunaan kuis roda putar juga mendukung penerapan pembelajaran berbasis student-centered learning, di mana siswa menjadi pusat aktivitas belajar (Solichah, dkk. 2023). Guru tidak lagi menjadi satu-satunya sumber informasi, melainkan fasilitator yang memandu jalannya permainan dan memastikan proses pembelajaran tetap sesuai tujuan. Hal ini sangat relevan diterapkan dalam mata pembelajaran Sosiologi yang menuntut pemahaman konsep secara mendalam. Sehingga adanya media kuis putar ini, guru dapat menyesuaikan pertanyaan berdasarkan tingkat kesulitan maupun topik yang sedang dipelajari.

Penulis: Kadek Widiantini

Mahasiswa Asistensi Mengajar Universitas Pendidikan Ganesha

Refrensi:

Devi, D., Sulistyarini, S., & Salim, I. (2019). Analisis Pelaksanaan Literasi Digital Dalam Proses Pembelajaran Sosiologi Di Kelas Xi Iis Man 1 Pontianak. Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Khatulistiwa (JPPK)8(7), 348-359.

Solichah, M. A., Hartatik, S., & Ghufron, S. (2023). Pemanfaatan media roda putar dalam pembelajaran di sekolah dasar. Wahana Sekolah Dasar31(1), 48-60.

 

Di Balik Panggung Sosiodrama: Perjalanan Kami dari Ragu Menjadi Membanggakan

Di Balik Panggung Sosiodrama: Perjalanan Kami dari Ragu Menjadi Membanggakan

Sorot Jendela

Perjalanan kami dimulai dari hari ketika pemeran sosiodrama pertama kali dipilih. Rasanya campur aduk, antara senang, gugup, dan takut tidak mampu memenuhi karakter yang dipercayakan. Latihan perdana berlangsung penuh kericuhan khas awal proses, disertai sesi pengambilan voice over yang membuat teman-teman mencoba hal baru. Tidak mudah menyesuaikan suara dengan karakter, tetapi semua berani mencoba.

Latihan demi latihan berikutnya mulai menunjukkan perubahan. Gerak, mimik wajah, hingga alur emosi dalam setiap adegan perlahan menjadi lebih solid. Teguran dan evaluasi dari pembina tentu terasa membuat kesal, namun kami paham bahwa semua itu untuk membentuk penampilan terbaik.

Latihan, teguran, perbaikan. Siklus itu terus berulang hingga akhirnya kami tampil perdana pada Bulan Bahasa SMA Muhammadiyah 2025. Rasa bangga menyelimuti diri kami masing-masing. Kami berhasil membawakan sosiodrama dengan sepenuh hati, dan lebih harunya lagi, penonton ikut merasakan suasana yang kami tampilkan, hingga banyak yang meneteskan air mata.

Tidak berhenti di sana, penampilan tersebut menarik perhatian banyak pihak sampai akhirnya kami dipercaya untuk tampil kembali pada Milad Muhammadiyah 2025. Pada rangkaian latihan berikutnya, kami semakin terpukau dengan dedikasi guru dan kakak pembina yang dengan penuh perhatian tetap membimbing kami di tengah kesibukan mereka.

Puncaknya, pada penampilan kedua yang juga menjadi penampilan terakhir, kami kembali tampil dengan penuh cinta. Sekali lagi, sosiodrama ini berhasil memikat hati penonton.

Terima kasih yang sebesar-besarnya kepada ibu bapak guru serta kakak-kakak AM selaku pelatih sosiodrama. Berkat bimbingan, teguran, dan dorongan tanpa henti, kami menemukan keberanian, kemampuan, bahkan bakat terpendam yang sebelumnya tidak kami sadari.

Untuk teman-teman seperjuangan, terima kasih karena telah berani mencoba, bertahan dalam proses, dan memberikan yang terbaik. Maaf jika selama latihan kami sering sulit diatur, terutama soal kedisiplinan waktu.

Semoga doa terbaik selalu menyertai ibu, bapak, kakak pembina, dan seluruh anggota tim sosiodrama, semoga selalu sehat, bahagia, sukses, dan diberkahi rezeki yang melimpah. Aamiin.

Dan ingatlah selalu adik-adik kecil yang manis dan baik hati ini.

We love you to the moon and back. 💗💗💗



Penulis: Aminah (Siswi kelas XI IPS)

Rabu, 03 Desember 2025

Kegiatan Asistensi Mengajar di SMA Muhammadiyah 2 Singaraja

Kegiatan Asistensi Mengajar di SMA Muhammadiyah 2 Singaraja

Ahmad Ferdian

Selama menjalani asistensi mengajar di SMA Muhammadiyah 2 Singaraja, hari-hari saya terasa seperti halaman buku yang pelan-pelan terisi cerita baru. Setiap pagi, saya melangkah masuk lewat gerbang sekolah sambil membawa semangat kadang rapi, kadang berantakan, tapi selalu ada rasa penasaran tentang apa yang akan terjadi hari itu.


(Dokumentasi Pribadi : Pertama kali Ke Sekolah)

Kegiatan saya dimulai dengan mendampingi guru kelas dalam proses belajar mengajar. Biasanya, saya membantu menyiapkan materi, memeriksa apakah semua perangkat pembelajaran sudah siap, dan memastikan siswa punya bahan yang dibutuhkan. Rasanya seperti jadi asisten sutradara di ruang kelas dan menata panggung kecil tempat ide dan tanya-jawab berputar.


(Dokumentasi Pribadi : Melakukan pendampingan di kelas)

Saat pelajaran berlangsung, saya ikut mengamati suasana kelas. Ada siswa yang anteng, ada yang kepalanya penuh tanda tanya, dan ada juga yang butuh sedikit dorongan supaya fokus. Di momen seperti itu, saya sering mendekat dan menjelaskan ulang materi dengan cara yang lebih sederhana. Kadang saya pakai contoh sehari-hari supaya mereka lebih cepat nangkap. Melihat wajah mereka berubah dari bingung menjadi mengerti itu rasanya seperti melihat lampu kecil menyala satu per satu.


(Dokumentasi Pribadi : Pertama kali masuk kelas dan menjelaskan materi)

Selain membantu guru, saya juga sempat memandu beberapa kegiatan kecil seperti diskusi kelompok, latihan soal, dan presentasi. Bagian ini jadi favorit saya, karena siswa biasanya lebih aktif dan suasananya lebih hidup. Saya belajar banyak tentang cara menghadapi berbagai karakter: ada yang suka berbicara, ada yang pendiam tapi idenya tajam, dan ada yang butuh sedikit keberanian untuk mulai angkat tangan.


(Dokumentasi Pribadi : Diskusi Kelompok)

Di luar jam pelajaran, saya sering ngobrol santai dengan beberapa siswa. Mereka bercerita tentang tugas, teman, mimpi, sampai soal hobi mereka. Dari percakapan kecil itu, saya makin sadar bahwa mengajar bukan cuma soal menyampaikan materi, tapi juga soal mendengarkan. Sekolah terasa seperti ruang penuh suara dan setiap suara punya cerita.

Pengalaman asistensi mengajar ini mengajarkan saya bagaimana cara berdiri di depan kelas tanpa kaku, bagaimana mengatur ritme kegiatan, dan bagaimana menemukan cara agar siswa tetap terlibat. Ada kalanya saya merasa grogi, ada juga saat-saat saya merasa wah, ternyata aku bisa juga ya!. Semuanya membentuk pengalaman yang hangat dan berkesan.

Akhirnya, asistensi ini bukan hanya tentang membantu guru, tapi juga tentang belajar menjadi versi diri yang lebih sabar, lebih peka, dan lebih siap menghadapi dunia pendidikan. SMA Muhammadiyah 2 Singaraja menjadi tempat saya menemukan warna baru dalam perjalanan belajar saya sendiri tempat kecil yang membuka langkah besar di masa depan

 

Penulis : Dema Satria Putra

Mahasiswa Asisensi Mengajar Universitas Pendidikan Ganesha

Selasa, 25 November 2025

Pengalamanku yang Mengasikan Mengajar di Kelas X

Pengalamanku yang Mengasikan Mengajar di Kelas X

Ahmad Ferdian

 


Sebagai calon guru, mengajar merupakan suatu hal penting yang perlu dikuasai guru saat kegiatan berlangsung. Mengajar bukan sekadar proses mentransfer ilmu saja melainkan juga menuntut guru untuk menguasai berbagai teknik pembelajaran. Hal ini diperlukan agar guru mampu menyesuaikan strategi mengajar sesuai dengan beragam tipe belajar dan potensi siswa yang berbeda (Asrivi, dkk. 2024).

Salah satu pengalaman yang sangat berkesan bagi saya adalah saat mengajar kelas X di SMAS Muhammadiyah 2 Singaraja sebagai mahasiswa asistensi mengajar. Setiap pertemuan memberikan saya kesempatan untuk belajar hal-hal baru, baik mengenai dunia pendidikan maupun tentang cara berinteraksi dengan peserta didik secara efektif. Pengalaman tersebut semakin menguatkan motivasi saya untuk mengajar dan mendorong saya untuk memberikan pembelajaran yang bermakna bagi siswa.

Pada awal pertemuan, memang saya merasa gugup saat harus berdiri di depan kelas untuk pertama kalinya. Meskipun sudah menyiapkan materi dengan baik, tetapi tetap saja ada rasa canggung ketika berhadapan langsung dengan siswa-siswa yang memiliki karakter dan latar belakang berbeda. Namun, setelah beberapa minggu saya mulai menyesuaikan diri dan berusaha membangun komunikasi yang positif. Saya menyadari bahwa kunci utama dalam mengajar bukan hanya penguasaan materi tetapi juga kemampuan menjalin kedekatan dengan siswa agar mereka merasa nyaman dalam proses pembelajaran.

Materi yang saya ajarkan pada saat itu adalah penelitian sosial dalam mata pelajaran Sosiologi. Saya menggunakan berbagai metode dalam pembelajaran seperti diskusi kelas, pemberian contoh-contoh kasus yang relevan dengan kehidupan sehari-hari, kuis, serta lembar kerja individu maupun kelompok. Aktivitas ini ternyata membuat suasana belajar menjadi lebih hidup dan menyenangkan. Melalui proses pembelajaran tersebut, saya belajar bahwa siswa akan lebih mudah memahami materi jika guru mampu mengaitkan pelajaran dengan konteks kehidupan mereka. Ketika membahas penelitian sosial, saya mencoba memberikan contoh yang dekat dengan lingkungan sekitar siswa, seperti penelitian tentang perilaku remaja di media sosial atau interaksi sosial di sekolah. Hal ini membuat siswa menjadi lebih antusias dan aktif dalam berdiskusi karena mereka merasa topik yang dibahas relevan dengan pengalaman mereka sendiri.

Untuk pembelajaran lebih lanjut, saya bersama rekan asistensi mengajar dari Program Studi Pendidikan Sosiologi juga membentuk kelompok belajar yang dibimbing secara intensif dalam penyusunan proyek makalah penelitian. Dalam proses bimbingan tersebut, kami berperan aktif membantu siswa mulai dari menentukan topik penelitian, merumuskan masalah, hingga mengumpulkan data dan menyusun makalah. Setiap siswa menunjukkan antusiasme yang tinggi, terutama ketika mereka meneliti hal-hal yang dekat dengan kehidupan mereka sendiri. Saya senang melihat bagaimana rasa ingin tahu siswa berkembang ketika mereka menemukan fakta-fakta baru dari hasil observasi dan wawancara yang dilakukan.

Selain itu, saya juga belajar tentang pentingnya manajemen kelas. Manajemen ini berperan dalam menciptakan suasana belajar yang kondusif dan menyenangkan. Saya mulai memahami bahwa setiap siswa memiliki cara berbeda dalam merespons pembelajaran. Ada siswa yang aktif bertanya, dan ada pula yang lebih memilih mendengarkan namun tetap mampu memahami materi dengan baik.

Ketika menghadapi beberapa siswa yang kurang fokus, saya mencoba menerapkan pendekatan yang lebih humanis, seperti menegur dengan halus, memberikan motivasi, dan mengajak mereka terlibat dalam aktivitas kelompok. Pendekatan tersebut terbukti lebih efektif dibandingkan memberikan teguran keras. Dari pengalaman itu, saya menyadari bahwa sebagai seorang guru, kemampuan memahami kondisi emosional dan kebutuhan siswa merupakan bagian penting dalam keberhasilan proses pembelajaran.

Dengan demikian, pengalaman mengajar di kelas X SMAS Muhammadiyah 2 Singaraja telah memberikan saya bekal yang sangat berharga dalam perjalanan menjadi calon guru profesional. Saya belajar bahwa proses belajar-mengajar adalah aktivitas yang dinamis, di mana guru dan siswa saling berinteraksi dan berkembang bersama. Pengalaman ini tidak hanya memperkuat kemampuan pedagogik saya sebagai Asistenssi Mengajar, tetapi juga menumbuhkan rasa percaya diri serta semangat untuk terus belajar dan berinovasi dalam dunia pendidikan.

Penulis: Kadek Widiantini

Mahasiswa Asistensi Mengajar Universitas Pendidikan Ganesha

Refrensi:

Asrivi, Q. E. S., Ulum, M. M., Umami, A. R., & Riani, H. S. (2024). Urgensi Microteaching Terhadap Keterampilan Menjelaskan dalam Meningkatkan Kompetensi Profesional Calon Guru MI/SD. Al-Madrasah: Jurnal Ilmiah Pendidikan Madrasah Ibtidaiyah8(3), 947-960.

 


Dari kelas ke Lapangan – Kisah Mahasiswa Asistensi Mengajar di SMAS Muhammadiyah 2 Singaraja

Dari kelas ke Lapangan – Kisah Mahasiswa Asistensi Mengajar di SMAS Muhammadiyah 2 Singaraja

Ahmad Ferdian

 

(Dokumentasi pribadi: dari kelas ke lapangan)

Perjalanan ini bermula dari bangku kuliah, tepatnya dari mata kuliah MicroTeaching yang menjadi batu pijakan sebelum saya benar – benar terjun ke dunia sekolah. Dari mata kuliah MicroTeaching mengajarkan lebih dari sekadar teknik berdiri di depan kelas, di sanalah saya belajar menyusun skenario pembelajaran, mengelola ritme belajar siswa, dan merancang evaluasi dan lain sebagainya. MicroTeaching adalah pelatihan awal yangmembekali mahasiswa dengankompetensi dan keterampilan dasarmengajar melalui simulasi dalam skala kecil (Ananda, 2025). Pengalaman praktis yang diperoleh dari MicroTeaching diharapkan dapat menjembatani kesenjangan antara teori dan praktik, sehingga mahasiswa lebih percaya diri dan terampil saat terjun langsung ke lapangan melalui program PLP (Ananda, 2025). pdiengalaman itu membuat saya percaya diri namun kenyataan di lapangan kemudian mengajarkan bahwa percaya diri saja belum cukup.

Babak Baru di Kelas XI


(Pembelajaran di kelas XI)

        Masuk ke kelas XI SMAS Muhammadiyah 2 Singaraja adalah babak baru. Di kelas, teori harus diubah menjadi bahasa yang mudah dipahami siswa. Kelas XI menurut saya kelas yang aktif dan drama – drama kecil yang mereka buat membuat saya lebih tertantang dan menjadi lebih antusias mengajar mereka. Ketika membahas konsep permasalahan sosial akibat pengelompokan sosial, saya memulai dengan pertanyaan  “Masalah artis dimedia sosial, apakah masuk kedalam permasalahan sosial”. Dari pertanyaan ini diskusi dimulai siswa langsung menjawab ada yang menyatakan “iya” ada yang “tidak”. Disinilah letak kita untuk menanyakan alasan merepa menjawab “iya” dan “tidak”. Setelah siswa menjelaskan alasannya saya memberikan penjelasan ulang mengenai jawabannya. Praktik mengajar sehari-hari mengajarkan saya perlunya fleksibilitas dan pentingnya memberi ruang bagi suara siswa. Suatu kali saat saya mempersiapkan permainan edukatif untuk menjelaskan konsep permasalah sosial dan konflik sosial, membuat modul pembelajaran dan juga s    oal ujian bersama tim teaching kelas XI Sosiologi. 

Pendampingan Akademik

(Pendampingan Penelitian Sosial)

     Selain mengajar, saya juga membimbing beberapa proyek akademik siswa kelas X termasuk pendampingan penulisan makalah penelitian sosial. Saya mengajarkan cara menyusun rumusan masalah, mencari penelitian terdahulu di google scholar, memilih metode pengumpulan data yang sederhana tapi valid (misalnya, observasi dan wawancara singkat), hingga tutorial membuat dokumen Word melalui ponsel bagi mereka yang belum familiar. Saya masih ingat momen saat dua kelompok berhasil menyelesaikan bab 1 mereka tidak lupa mengucapkan “terima kasih, Bu” dari salah satu dari mereka terasa sangat menghangatkan bukan karena saya membantu membuat tugas, tetapi karena saya membantu mereka merasakan proses penelitian itu sendiri. 

Tantangan dan Pembelajaran di Lapangan

Mengajar di lapangan ternyata sangat berbeda dengan simulasi MicroTeaching. Di ruangan simulasi, suasana masih dapat dikendalikan dan skenarionya terprediksi. Namun, ketika berada di depan siswa yang sebenarnya, segala sesuatu menjadi jauh lebih dinamis.

Pengalaman pertama mengajar Sosiologi di kelas XI menjadi babak yang sangat berharga. Saya belajar bagaimana membuat materi pembelajaran lebih dekat dengan kehidupan mereka, bagaimana mengatur kelas yang penuh energi, serta bagaimana menyesuaikan strategi mengajar sesuai kebutuhan peserta didik, seperti halnya kelas XI yang lebih aktif jika dalam pembelajaran terdapat games edukatif.

Selain kegiatan mengajar dan PMR, saya juga terlibat dalam persiapan Olimpiade Sosiologi, bimbingan TKA Sosiologi untuk kelas XII, pelatihan public speaking, hingga proyek pembuatan video konflik sosial untuk kelas XI. Setiap kegiatan menuntut gaya bimbingan yang berbeda dan memperluas cara saya memahami peran pendidik tidak hanya sebagai pengajar, tetapi juga sebagai mentor, fasilitator, dan pendamping proses tumbuhnya siswa.

Penutup

Walaupun belum menjadi guru sepenuhnya, namun pengalaman ini menjadi ukiran yang menghangatkan hati saya karena setiap senyum, tanya, dan cerita siswa meninggalkan jejak pembelajaran yang tak bisa dibeli dari bangku kuliah.

Menutup kesan pesan ini, saya kembali teringat bahwa perjalanan dari Micro Teaching hingga asistensi mengajar bukanlah garis lurus menuju kesempurnaan. Ia adalah proses berulang yang menuntut kesabaran dan keinginan untuk terus belajar dari buku, guru, dosen, rekan – rekan Asistensi Mengajar dan terutama dari siswa sendiri. Pengalaman di SMAS Muhammadiyah 2 Singaraja menguatkan keyakinan saya bahwa menjadi guru berarti menjadi pembelajar seumur hidup. Seperti ungkapan yang mengebutkan bahwa belajar dan pembelajaran merupakan “lifelong education” yang berarti pendidikan seumur hidup hal ini berlaku pula untuk seorang guru dan dosen sebagai agen perubahan dalam dunia pendidikan. (Apriliyanti,2025) Dan itulah makna paling berharga yang saya bawa pulang bukan hanya soal mengajar, melainkan tumbuh bersama mereka dari kelas ke lapangan.

Penulis: Wika Yosepha

Mahasiswa Asistensi Mengajar Universitas Pendidikan Ganesha

Daftar Pustaka

Ananda, A. D. T., & Sari, F. A. (2025). Pengaruh Efikasi diri dan Mata Kuliah Micro teaching terhadap Persiapan mengikuti Program Pengenalan lapangan Persekolahan (PLP) pada Mahasiswa PIPS FKIP Universitas Riau. Pendas: Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar10(03), 735-744.

Apriliyanti, I, D. L. (2025). Guru dan Dosen sebagai Agen. Pendidikan berdaya untuk Indonesia Emas 2045 (Paragon projek 3), 125.


Senin, 24 November 2025

Jemari Jiwa Menari: Jejak Bakat Seni melalui Ekstrakurikuler Tari di SMAS Muhammadiyah 2 Singaraja

Jemari Jiwa Menari: Jejak Bakat Seni melalui Ekstrakurikuler Tari di SMAS Muhammadiyah 2 Singaraja

Sorot Jendela

 

                                                       
             

Tari bukan hanya sekadar gerakan, tetapi seni panggilan jiwa. Dalam setiap gerakannya selalu tersimpan makna yang disampaikan secara tersirat. Salah satu ruang istimewa bagi seseorang untuk mengekspresikan diri melalui seni tari adalah lingkungan Sekolah. Lingkungan Sekolah hendaknya tidak hanya menjadi ruang untuk memperoleh materi pembelajaran dan menyelesaikan berbagai tugas, tetapi lebih dari pada itu Sekolah menjadi panggung istimewa untuk menemukan dan mengasah bakat tersembunyi, salah satunya melalui gerak seni tari. Di SMAS Muhammadiyah 2 Singaraja, kegiatan ekstrakurikuler tari bukan hanya sekadar kegiatan tambahan sepulang sekolah, melainkan menjadi wadah yang dapat menunjukkan ekspresi melalui gerakan tubuh yang sarat makna. Ekstrakurikuler seni tari SMAS Muhammadiyah 2 Singaraja dikenal dengan sebutan “tari nusantara ranub meuh” yang memiliki simbol penghormatan kepada tamu.

Setiap jemari dan tubuh yang bergerak mengandung makna dan perasaan yang mendalam dalam setiap keselarasan gerak dan irama yang terdengar. Melalui gerakan tari peserta didik diajarkan untuk berani berekspresi. Setiap peserta didik yang mengikuti ekstrakurikuler seni tari tidak hanya menari untuk bersenang- senang, tetapi juga untuk menjaga warisan budaya melalui mempelajari berbagai gerak tari yang bernuansa tradisional hingga modern. Ekstrakurikuler seni tari berhasil menciptakan sebuah jejak nyata melalui pementasan dan penampilan di acara-acara Sekolah, seperti acara Bulan Bahasa, Milad Muhammadiyah, dan acara lainnya yang di dalam Sekolah hingga di luar Sekolah.



Peran utama ekstrakurikuler tari di SMAS Muhammadiyah 2 Singaraja yakni sebagai jejak yang mampu menumbuhkan bakat seni setiap peserta didik. Ekstrakurikuler tari dilatih oleh Ibu Nazila Al Khatib yang memiliki berbagai pengalaman dalam menari. Adapun proses mengasah potensi diri dalam menari dilakukan melalui beberapa tahap yakni pada tahap awal peserta ekstra diberikan materi gerak dasar tari terlebih dahulu, misalnya ketika ingin praktik menari saman, peserta didik perlu menguasai gerakan dasar yakni gerakan tari bungong jeumpa. Ekstrakurikuler seni tari tidak hanya berfokus pada tari saman saja, tetapi berbagai tari nusantara yang beragam. Peserta didik yang mengikuti ekstrakurikuler tari sudah berhasil menampilkan pementasan berupa penampilan tari saman dalam acara Milad Muhammadiyah di Gedung Kesenian, penampilan tari Melayu dalam acara Bulan Bahasa di Sekolah, dan penampilan tari saman dalam acara pernikahan. Pengalaman pementasan tersebut menunjukkan bahwa ekstrakurikuler seni tari SMAS Muhammadiyah 2 Singaraja sudah berhasil menunjukkan hasil pelatihan seni tari yang terlihat dari berbagai pengalaman pentas tari secara internal maupun eksternal dari lingkup Sekolah.

Adapun manfaat kehadiran ekstrakurikuler seni tari tidak hanya terbatas pada kemampuan menari saja, tetapi kehadirannya dapat meningkatkan rasa semangat, sikap percaya diri, dan rasa cinta peserta didik dengan kebudayaan lokal. Ekstrakurikuler seni tari ternyata juga membuat peserta didik saling mengenal satu sama lain dan berbaur menjalin tali silaturahmi meskipun pada awlanya mereka tidak saling mengenal. Peserta ekstra menganggap bahwa Menari menjadi hal yang menyenangkan, serta Ibu Nazila sebagai pelatih juga dapat mengalirkan minat dan bakatnya dalam menari melalui ekstrakurikuler tari yang sudah terbentuk di SMAS Muhammadiyah 2 Singaraja.

Penulis: Ni Wayan Karunia Wedani (Mahasiswa Universitas Pendidikan Ganesha)


Jumat, 21 November 2025

INFORMASI SUMATIF AKHIR SEMESTER GANJIL TA 2025-2026

INFORMASI SUMATIF AKHIR SEMESTER GANJIL TA 2025-2026

Ahmad Ferdian

 



ٱلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ ٱللَّٰهِ وَبَرَكَاتُهُ

Berikut informasi pelaksanaan kegiatan Sumatif Akhir Semester (SAS) Genap ajaran 2024-2025 yang terdiri dari, Jadwal Mapel, Jadwal Pengawas, Ruang Denah Ujian. Kegiatan SAS dilaksanakan selama 5 hari (24-28 November 2025)

Jadwal dan Pengawas SAS

Denah Ruangan 

Demikian Informasi ini disampaikan, selamat belajar, semoga Sukses

TTD

Panitia SAS 25-26

Senin, 03 November 2025

Laporan Penggunaan Hibah Dana BOSP Reguler

Laporan Penggunaan Hibah Dana BOSP Reguler

Sorot Jendela

 

Pada Semester 1 Tahun 2025, SMAS Muhammadiyah 2 Buleleng menerima hibah Dana BOS Reguler sebesar Rp115.200.000,00. Dana tersebut dimanfaatkan untuk menunjang kegiatan operasional dan pengembangan sekolah sesuai dengan ketentuan Juknis BOS yang berlaku.

Dari total anggaran, realisasi penggunaan dana hingga akhir semester mencapai Rp57.601.199,00, sedangkan sisa dana sebesar Rp57.598.801,00 masih tersedia untuk kegiatan pada semester berikutnya.

Secara rinci, dana tersebut digunakan untuk:

  1. Belanja Operasional Sekolah sebesar Rp42.080.830,00, yang mencakup kebutuhan bahan dan alat pembelajaran, ATK, kegiatan ekstrakurikuler, serta pemeliharaan fasilitas sekolah.

  2. Belanja Modal Aset Tetap Lainnya sebesar Rp0,00, dengan sisa anggaran Rp3.415.000,00 yang direncanakan untuk realisasi pada periode selanjutnya.

  3. Belanja Modal Peralatan dan Mesin sebesar Rp5.975.000,00, digunakan untuk pengadaan peralatan pendukung kegiatan belajar mengajar.

Penggunaan dana dilakukan secara transparan, efisien, dan akuntabel berdasarkan Rencana Kegiatan dan Anggaran Sekolah (RKAS) yang telah disetujui. Laporan realisasi ini disusun sesuai dengan peraturan perundang-undangan serta dilengkapi dokumen pendukung yang sah.

Secara keseluruhan, pengelolaan hibah dana BOS Reguler Semester 1 Tahun 2025 telah berjalan dengan baik dan memberikan dampak positif terhadap keberlangsungan kegiatan belajar mengajar, peningkatan mutu layanan pendidikan, serta penguatan manajemen sekolah.

Sabtu, 01 November 2025

Bulan Bahasa 2025: Bijak Berbahasa Cerdas Berkarya

Bulan Bahasa 2025: Bijak Berbahasa Cerdas Berkarya

Sorot Jendela

Oktober, diperingati sebagai Bulan Bahasa Indonesia. Momen ini menjadi pengingat peristiwa Sumpah Pemuda, tepatnya pada 28 Oktober 1928 Bahasa Indonesia ditetapkan sebagai bahasa resmi yang digunakan untuk bermasyarakat. SMA Muhammadiyah 2 Singaraja menjadi salah satu sekolah yang rutin mengadakan kegiatan memperingati Bulan Bahasa. 

Pelaksanaan Bulan Bahasa berjalan selama dua hari pada tanggal 30 dan 31 Oktober 2025. Acara Bulan Bahasa diisi dengan lomba-lomba dan persembahan dari kolaborasi siswa-siswi SMA Muhammadiyah 2 Singaraja dan mahasiswa Asistensi Mengajar Univeritas Pendidikan Ganesha(Undiksha). 

Beragam lomba yang diadakan dalam kegiatan Bulan Bahasa antara lain membuat majalah dinding, membaca puisi, mendongeng, dan lomba cerdas cermat. Masing-masing kelas wajib mengirimkan perwakilan untuk berpartisipasi.

Selain perlombaan, acara juga dimeriahkan dengan pertunjukan tari melayu "Selayang Pandang" Oleh siswi ekstrakulikuler Tari Nusantara, dan Sosiodrama dengan judul "Peristiwa Penurunan Bendera Belanda di Pelabuhan Tua Buleleng" yang merupakan hasil kolaborasi siswa-siswi SMA Muhammadiyah 2 Singaraja dan Mahasiswa Asistensi Mengajar.

Dengan mengangkat tema "Bijak Berbahasa Cerdas Berkarya", kegiatan ini bertujuan menumbuhkan kecintaan siswa terhadap bahasa dan sastra Indonesia, sekaligus melatih kreativitas serta kerja sama antarwarga sekolah. Melalui Bulan Bahasa, pihak sekolah ingin menanamkan kebanggaan berbahasa Indonesia.

Acara berlangsung meriah dan penuh semangat. Siswa-siswi tampak antusias mengikuti setiap kegiatan yang telah disiapkan panitia. Diharapkan kegiatan Bulan Bahasa ini dapat menjadi agenda tahunan yang semakin mempererat hubungan antara siswa dan mahasiswa serta menumbuhkan semangat berbahasa Indonesia yang baik dan benar di kalangan generasi muda.

Rabu, 22 Oktober 2025

SAPA (Sarapan Pagi Soal Sosiologi): Cara Nikmat Memahami Fenomena Sosial

SAPA (Sarapan Pagi Soal Sosiologi): Cara Nikmat Memahami Fenomena Sosial

Ahmad Ferdian

Pendahuluan

            Pernahkah kalian bertanya-tanya mengapa terjadi kemacetan parah ketika musim mudik?, atau mengapa di era digital saat ini masih banyak berita yang belum pasti kebenarannya atau disebut berita HOAX yang berdampak pada kepercayaan masyarakat?. Fenomena-fenomna musiman yang terjadi setiap hari ini merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan bermasyarakat. Fenomena seperti tadi disebut sebagai fenomena sosial. Fenomena sosial disebut sebagai perubahan nilai dan norma dalam masyarakat yang terjadi secara terus-menerus (Aisy dkk., 2025), sehingga hadirnya fenomena sosial ini dapat memengaruhi dan juga dipengaruhi oleh kondisi kehidupan sosial masyarakat.

            Memahami fenomena sosial yang terjadi dalam masyarakat sering kali menjadi sesuatu yang rumit, padahal dalam proses memahami fenomena sosial kita perlu melihat lebih dalam keadaan yang terjadi sebenernya dan dianalisis dengan berbagai sudut pandang yang berbeda. Salah satu ilmu pengetahuan yang akrab membahas tentang fenomena sosial dan berkaitan dengan melihat kenyataan sosial di lapangan secara sistematis adalah ilmu Sosiologi. Fenomena sosial akan dirancang secara sederhana melalui media pembelajaran SAPA (Sarapan Pagi Soal Fenomena Sosial), media ini akan menunjukkan cara nikmat dan menyenangkan untuk memahami fenomena sosial yang kompleks dan mengubah kebingungan menjadi pengetahuan.

Pembahasan

            Fenomena sosial merupakan suatu kejadian yang muncul karena adanya hubungan antarmanusia dan perubahan yang terjadi dalam lingkungan masyarakat. Contoh fenomena sosial yang didapatkan di lingkungan sekolah, masyarakat, maupun media sosial diantaranya yaitu fenomena meningkatnya aksi perundungan (bullying) di sekolah, fenomena pernikahan dua kebudayaan yang berbeda di Indonesia, fenomena kemacetan di jalan raya yang menyebabkan konflik, dan fenomena trend tiktok di media sosial. Terdapat banyak hal yang saling berkaitan dengan fenomena yang terjadi tersebut, setiap kerjadian atau fenomena tidak akan berdiri sendiri, pasti selalu ada keterkaitannya dengan perubahan dan perkembangan yang terjadi.

            Cara paling nikmat untuk memahami fenomena sosial adalah dengan melatih diri untuk mulai berpikir secara luas. Bagaikan ketika kita sedang sarapan dipagi hari, kita tidak hanya menelan makanan, tetapi juga akan mencerna makanan yang kita makan diibaratkan seperti isinya. Media SAPA diterapkan dengan memberikan fenomena sosial sebagai soal yang kemudian dianalisis untuk menentukan nama fenomena tersebut, dampak fenomena, dan solusi fenomena dalam bentuk menjodohkan soal dengan jawaban yang sudah disiapkan. Ada beberapa tips yang dapat diterapkan ketika ingin memahami fenomena sosial secara menyeluruh melalui cara pandang SAPA: teknik ketahui 3 MBA yakni:

1.   Mengapa fenomena tersebut terjadi?, sertakan alasan yang mendukung.

2.   Bagaimana kondisi lingkungan disekitarnya?, apa penyebab dari fenomena tersebut.

3.  Apa yang salah dengan lingkungan atau sistemnya secara keseluruhan?, ungkapkan permasalahan yang terjadi sesuai kenyataan kondisi yang ada.

            Kebiasaan SAPA atau Sarapan Pagi sebagai media pembelajaran, dengan pemikiran yang peka terhadap fenomena sosial, akan menjadikan wawasan kita menjadi lebih luas. Media pembelajaran yang interaktif memerlukan proses yang sistematis dan terencana dengan baik untuk mencapai tujuan pembelajaran yang efektif, sehingga media yang dirancang hendaknya memiliki tujuan yang lebih spesifik ( Mahendra dkk., 2025). Penerapan media SAPA dalam pembelajaran Sosiologi untuk memahami secara sederhana tentang berbagai fenomena sosial di masyarakat dapat dipahami dengan 3 kunci memahami dengan nikmat yaitu: (1) Menghubungkan diri dengan lingkungan luas, dalam konsep ini jangan hanya melihat masalah sebagai sesuatu yang harus dihindari, tetapi hubungkan juga dengan pengalaman pribadi yang sesuai dengan kejadian di lapangan. Dalam hal ini diperlukan kepekaan sosial untuk mampu merasakan, memahami, dan merespons kondisi di sekitar secara objektif (Wahyu dkk., 2025). Selanjutnya (2) Memahami penyebab fenomena bukan langsung menghakimi, dalam konsep ini pandangan terhadap suatu fenomena tidak berdasarkan baik atau buruknya suatu fenomena, tetapi kenyataan yang terjadi sebenarnya dalam fenomena tersebut, dan (3) Mengubah pengetahuan menjadi tindakan nyata, dalam hal ini setelah media SAPA diterapkan peserta didik diharapkan dapat menganalisis solusi untuk menghadapi berbagai fenomena sosial yang mengarah pada kondisi yang negatif.

Penutup

            Melalui pemahaman fenomena sosial dengan membiasakan menganalisis dengan media Sarapan Pagi akan melatih pemikiran peserta didik untuk selalu bertanya “mengapa dan bagaimana” terhadap segala sesuatu yang dilihat dan didengar. Dengan hadirnya media ini yang diterapakan sebelum memulai pembelajaran tepatnya dipagi hari, akan mengubah pola pikir mereka tentang cara menghadapi fenomena sosial yang terjadi tanpa bergosip dengan menggunakan istilah “katanya ataupun kayaknya”. Media ini membantu membuka menanggapi berbagai fenomena dengan lebih sadar dan peka terhadap lingkungan di sekitar mereka.

Kesimpulan

            Fenomena sosial sebenarnya memerlukan cara pandang yang membutuhkan kesadaran secara menyeluruh, fenomena sosial menjadi kondisi utama dalam mengenal bagaimana keadaan lingkungan sekitar kita. Oleh karena itu penyusunan media SAPA dalam proses pembelajaran Sosiologi dapat menjadi cara nikmat dan menyenangkan untuk memahami berbagai fenomena sosial yang kompleks berupa kejadian di masyarakat tanpa perlu merasa kebingungan untuk menghadapinya. Media SAPA Mengajak peserta didik untuk berkontribusi secara positif dalam menghadapi kondisi sosial yang terjadi di lingkungan sekitar mereka.

Penulis: Ni Wayan Karunia Wedani

Mahasiiswa Asistensi Mengajar Universitas Pendidikan Ganesha

Daftar Pustaka

Aisy, M. R., Fadia, M. F., Salsabila, M., & Putra, P. (2025). Perubahan Nilai dan Norma Pada Masyarakat: Studi Sosial di Era Globalisasi. Jurnal Cakrawala Akademika1(6), 2219-2202.

Mahendra, I. G. B., Rapar, J. J., & Kilis, B. M. (2025). MEDIA PEMBELAJARAN BERBASIS ICT: INOVASI, IMPLEMENTASI, DAN TANTANGAN DALAM PENDIDIKAN MODERN. Penerbit Tahta Media.

Wahyu Nugroho, E., Harmi, H., & Apriani, E. (2025). Pengembangan Kecerdasan Interpersonal Mahasiswa Prodi PAI dalam Mata Kuliah Psikologi Pendidikan di IAIN Curup (Doctoral dissertation, Institut Agama Islam Negeri Curup).