(Bersama Guru Pendamping Ekstrakurikuler, Mahasiswa Asistensi Mengajar & Anggota PMR)
Ekstrakurikuler
Palang Merah Remaja (PMR) di SMAS Muhammadiyah 2 Singaraja merupakan salah satu
program pembinaan yang bertujuan untuk mengembangkan karakter peserta didik
melalui kegiatan kemanusiaan, keterampilan pertolongan pertama, kedisiplinan,
serta pembiasaan sikap tanggap dalam menghadapi berbagai situasi darurat.
Adanya ekstrakurikuler PMR di sekolah ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat
belajar teori dasar mengenai kesehatan, mitigasi bencana maupun pertolongan
pertama, tetapi juga mempraktikkannya secara langsung. PMR ini juga menjadi
wadah bagi peserta didik untuk belajar keterampilan yang bermanfaat dalam
kehidupan, seperti menolong teman yang sakit, menangani luka ringan, dan
memberikan bantuan pertama ketika terjadi kecelakaan kecil. Kegiatan ini juga
membantu siswa membangun karakter disiplin, bertanggung jawab, dan mampu
bekerja sama dengan orang lain.
Kegiatan PMR di sekolah dilakukan
secara rutin dan teratur. Pada setiap pertemuan, siswa mendapatkan materi
tentang dasar-dasar seperti contohnya pertolongan pertama. Materi tersebut
kemudian dilanjutkan dengan latihan praktik, seperti cara membalut luka,
menggunakan mitela untuk membantu patah tulang ringan, serta simulasi menangani
korban pingsan. Siswa juga dilatih cara memeriksa kondisi korban, seperti cek
napas, denyut nadi, dan tingkat kesadaran. Dengan cara belajar langsung sambil
praktik, siswa menjadi lebih mudah memahami materi dan berani mencoba.
Selain latihan, anggota PMR juga memiliki tugas piket di UKS setiap hari Senin saat upacara bendera. Pada kegiatan ini, dua atau tiga anggota PMR berjaga untuk membantu siswa lain yang merasa pusing, lemas, atau pingsan selama upacara. Tugas ini menjadi pengalaman nyata bagi anggota PMR untuk menerapkan pengetahuan dan keterampilan yang sudah dipelajari. Sedangkan untuk hari Selasa sampai Jumat tetap berjalan piket menjaga UKS dengan agenda mengecek kelengkapan obat – obatan dan memberikan perawatan sederhana kepada teman yang sakit di UKS misalnya, memberikan minyak kayu putih ketika siswa merasa mual atau kembung atau menyiapkan air hangat untuk membantu meredakan rasa sakit. Melalui rutinitas ini, sebagai anggota PMR mereka dapat belajar menghadapi berbagai kondisi nyata di lingkungan sekolah, sehingga pengalaman mereka tidak hanya sebatas teori atau simulasi. Mereka menjadi lebih peka terhadap kondisi orang lain, terbiasa bekerja dengan tenang dalam situasi yang membutuhkan penanganan cepat, dan mampu menerapkan langkah pertolongan pertama sesuai prosedur. Piket UKS ini memberikan kesempatan bagi anggota untuk belajar secara langsung, membangun rasa percaya diri, dan memperkuat kemampuan komunikasi ketika berinteraksi dengan siswa lain, guru dan staf disana. Dengan demikian, kegiatan piket ini menjadi bagian penting dalam pembelajaran yang memperkuat keterampilan anggota PMR secara menyeluruh.
(Dokumentasi
Pendampingan Ekstrakurikuler)
(Dokumentasi
Praktik Mitigasi Bencana)
Salah satu program Mahasiswa
Asistensi Mengajar yang secara tidak langsung berkolaborasi dengan anggota PMR
sekolah ini yaitu kegiatan sosialisasi mitigasi bencana yang dilaksanakan pada Kamis,
13 November 2025 dengan menghadirkan pihak BPBD Kab. Buleleng sebagai Narasumber.
Sosialisasi ini bertujuan memberikan pemahaman kepada siswa tentang
langkah-langkah yang harus dilakukan ketika menghadapi bencana seperti gempa. Dalam
kegiatan ini, siswa belajar cara bersikap tenang, mengikuti prosedur evakuasi,
serta melakukan tindakan penyelamatan diri dengan benar. Bagi anggota PMR,
kegiatan ini juga membantu memperkuat pengetahuan tentang peran mereka sebagai
tim yang ikut membantu evakuasi dan memberikan pertolongan pertama saat terjadi
keadaan darurat di lingkungan sekolah. Melalui sosialisasi ini, siswa menjadi
lebih siap, peduli, dan sadar akan pentingnya kesiapsiagaan menghadapi bencana.
Walaupun kegiatan PMR berjalan cukup
baik, masih ada beberapa tantangan yang dihadapi. Salah satu kendala yang
sering muncul adalah kurangnya alat latihan, seperti spalk dan peralatan medis
lainnya. Karena fasilitas masih terbatas, beberapa latihan dilakukan
menggunakan alat sederhana seperti mitela. Selain itu, jadwal latihan terkadang
berubah karena harus menyesuaikan kegiatan sekolah dan jadwal siswa lainnya.
Hal ini menyebabkan sebagian anggota belum bisa hadir secara konsisten dalam
setiap latihan. Meskipun begitu, semangat siswa untuk mengikuti PMR tetap
tinggi. Banyak di antara mereka yang semakin percaya diri saat melakukan
praktik pertolongan pertama dan merasa terbiasa saat bertugas di UKS. Perubahan
sikap siswa juga mulai terlihat, seperti menjadi lebih peduli dengan kondisi
teman dan lingkungan sekitar. Selain itu, rasa kebersamaan dan solidaritas
antaranggota semakin kuat karena sering berlatih dan bertugas bersama.
Secara keseluruhan, kegiatan PMR di
SMAS Muhammadiyah 2 Singaraja memberikan dampak positif bagi siswa. Mereka
tidak hanya belajar teori kesehatan, tetapi juga belajar bagaimana menerapkan
keterampilan tersebut dalam kehidupan nyata. PMR menjadi tempat untuk melatih
kerjasama, kepemimpinan, empati, kedisiplinan, dan keberanian dalam mengambil
tindakan. Harapannya, kegiatan ini dapat terus berkembang dengan dukungan
fasilitas yang memadai serta pembina yang aktif, sehingga PMR dapat menjadi
ekstrakurikuler yang memberi manfaat besar bagi siswa dan lingkungan sekolah.
Penulis: Wika
Yosepha
Mahasiswa
Asistensi Mengajar Universitas Pendidikan Ganesha















.jpeg)
.jpeg)
