Tampilkan postingan dengan label Bulan Bahasa Indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bulan Bahasa Indonesia. Tampilkan semua postingan

Jumat, 12 Desember 2025

Siswa Unjuk Kemampuan Olah Vokal dan Ekspresi Lewat Lomba Baca Puisi dalam Rangka Bulan Bahasa Tahun 2025

Siswa Unjuk Kemampuan Olah Vokal dan Ekspresi Lewat Lomba Baca Puisi dalam Rangka Bulan Bahasa Tahun 2025

Sorot Jendela

 

Dalam rangka memperingati Bulan Bahasa pada Oktober 2025, Mahasiswa Asistensi Mengajar dari Universitas Pendidikan Ganesha berkolaborasi dengan SMAS Muhammadiyah 2 Singaraja untuk menyelenggarakan serangkaian lomba untuk memeriahkan Bulan Bahasa tersebut. Bulan Bahasa merupakan sebuah peringatan yang dilaksanakan setiap bulan Oktober sebagai wujud menghargai dan mengembangkan bahasa dan sastra Indonesia.

Salah satu cabang lomba yang mengutamakan olah vokal dan ekspresi siswa dalam Bulan Bahasa adalah Lomba Baca Puisi. Kegiatan ini menjadi bagian dari program kerja Pengembangan Implementasi Program Strategis (PIPS) yang berkaitan dengan literasi baca tulis. Lomba ini dirancang dengan tujuan meningkatkan minat siswa terhadap karya sastra Indonesia yang indah dan penuh makna. Serangkaian lomba ini dimulai dari pendaftaran peserta (15-27 Oktober 2025), pelaksanaan technical meeting (28 Oktober), pelaksanaan lomba (30 Oktober 2025), dan pengumuman pemenang pada puncak acara (31 Oktober 2025). Serangkaian kegiatan ini sepenuhnya dilaksanakan di SMAS Muhammadiyah 2 Singaraja.


Lomba ini diikuti oleh 2 siswa setiap kelasnya, sehingga total peserta adalah 6 siswa. Puisi yang dibacakan sudah ditentukan oleh mahasiswa, yaitu puisi dengan judul “Melawan Lupa Untuk Pemuda” karya Destin Juang Bagustin. Puisi ini dipilih karena di bulan yang sama, kita memperingati Hari Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 2025. Setiap peserta akan membacakan puisi yang sama sehingga mempermudah juri melakukan penilaian. Juri dalam lomba ini melibatkan Ibu Nazila Al-Khatib, S.Pd. selaku Guru Bahasa Indonesia dan Ni Wayan Karunia Wedani selaku Mahasiswa Undiksha yang tentunya memiliki pengalaman mumpuni dalam baca puisi. Ajang lomba baca puisi ini menjadi bukti nyata bahwa mahasiswa Universitas Pendidikan Ganesha mampu bekerja sama dengan Sekolah Mitra yaitu SMAS Muhammadiyah 2 Singaraja dalam kegiatan non-mengajar.


Para peserta menampilkan bakat mereka dengan sangat memukau, terlihat dari vokal dan ekspresi mereka yang sangat menjiwai. Puisi dengan tema pahlawan tersebut dibacakan dengan semangat membara dan berkesan bagi pendengarnya sehingga patut diapresiasi. Tak heran, para peserta sudah mempersiapkan diri dengan baik, menggunakan properti pendukung, hingga gestur tubuh yang memukau. Pemenang dalam lomba ini diraih oleh Mutia Dewi dari Kelas XII dengan vokal yang bulat dan ekspresinya yang mampu menghanyutkan hati. Semoga lomba ini menjadi langkah awal bagi para siswa untuk berekspresi lewat karya sastra.



Oleh: Sri Lusiana Br. Lumban Tobing

(Mahasiswa Prodi Pendidikan Sosiologi, Universitas Pendidikan Ganesha)


Sabtu, 01 November 2025

Bulan Bahasa 2025: Bijak Berbahasa Cerdas Berkarya

Bulan Bahasa 2025: Bijak Berbahasa Cerdas Berkarya

Sorot Jendela

Oktober, diperingati sebagai Bulan Bahasa Indonesia. Momen ini menjadi pengingat peristiwa Sumpah Pemuda, tepatnya pada 28 Oktober 1928 Bahasa Indonesia ditetapkan sebagai bahasa resmi yang digunakan untuk bermasyarakat. SMA Muhammadiyah 2 Singaraja menjadi salah satu sekolah yang rutin mengadakan kegiatan memperingati Bulan Bahasa. 

Pelaksanaan Bulan Bahasa berjalan selama dua hari pada tanggal 30 dan 31 Oktober 2025. Acara Bulan Bahasa diisi dengan lomba-lomba dan persembahan dari kolaborasi siswa-siswi SMA Muhammadiyah 2 Singaraja dan mahasiswa Asistensi Mengajar Univeritas Pendidikan Ganesha(Undiksha). 

Beragam lomba yang diadakan dalam kegiatan Bulan Bahasa antara lain membuat majalah dinding, membaca puisi, mendongeng, dan lomba cerdas cermat. Masing-masing kelas wajib mengirimkan perwakilan untuk berpartisipasi.

Selain perlombaan, acara juga dimeriahkan dengan pertunjukan tari melayu "Selayang Pandang" Oleh siswi ekstrakulikuler Tari Nusantara, dan Sosiodrama dengan judul "Peristiwa Penurunan Bendera Belanda di Pelabuhan Tua Buleleng" yang merupakan hasil kolaborasi siswa-siswi SMA Muhammadiyah 2 Singaraja dan Mahasiswa Asistensi Mengajar.

Dengan mengangkat tema "Bijak Berbahasa Cerdas Berkarya", kegiatan ini bertujuan menumbuhkan kecintaan siswa terhadap bahasa dan sastra Indonesia, sekaligus melatih kreativitas serta kerja sama antarwarga sekolah. Melalui Bulan Bahasa, pihak sekolah ingin menanamkan kebanggaan berbahasa Indonesia.

Acara berlangsung meriah dan penuh semangat. Siswa-siswi tampak antusias mengikuti setiap kegiatan yang telah disiapkan panitia. Diharapkan kegiatan Bulan Bahasa ini dapat menjadi agenda tahunan yang semakin mempererat hubungan antara siswa dan mahasiswa serta menumbuhkan semangat berbahasa Indonesia yang baik dan benar di kalangan generasi muda.

Minggu, 19 Oktober 2025

Rumah

Rumah

Sorot Jendela

Apa itu rumah?.

Mungkin sebagian orang akan menjawab tempat mereka tinggal

Tempat yang berupa bangunan atau semacamnya 

Tapi untukku rumah adalah

Saat dimana aku bisa meluapkan semua perasaan 

Saat dimana ceritaku didengar




Bagiku rumah tidak harus selalu soal bangunan 

Namun rumah itu dapat berbentuk apapun

Baik itu dalam wujud manusia atau yang lainnya 


Rumah.....

Kapan terakhir kali aku merasakan sensasi pulang ke rumah

Rumah dimana aku bisa bahagia

Di mana aku tidak pernah merasa kesepian

Kurasa aku tidak akan pernah merasakan rumah yang ku impikan itu

Rabu, 15 Oktober 2025

Dari Novel ke Film: Mengapa Membaca Lebih Seru?

Dari Novel ke Film: Mengapa Membaca Lebih Seru?

Sorot Jendela

 

Pernahkah kamu nonton film adaptasi novel favoritmu dan berujung kecewa karena ternyata filmnya tidak sebagus novelnya? Rasanya seperti ada yang kurang, entah dari adegan atau aktor yang tidak sesuai dengan imajinasi kita. Itu karena membaca memberi ruang pada imajinasi kita, yang tidak bisa diberikan sepenuhnya oleh film.

Adaptasi novel ke dalam film kian marak. Tidak sedikit film-film yang berangkat dari novel mendapat kritik. Pembaca merasa kurang puas pada hasil novel yang difilmkan. Rata-rata film berdurasi 90–120 menit, sementara novel bisa memiliki ratusan halaman dan alur cerita yang sangat panjangTerkadang produser dan penulis skenario harus menyederhanakan atau bahkan memotong plot, detail, dan karakter minor yang dianggap kurang penting.

Selain itu, dalam novel, pikiran, monolog batin, dan deskripsi detail dapat digambarkan melalui narasi, sesuatu yang sulit dilakukan dalam film. Oleh karena itu, penulis skenario harus mengubah alur untuk menampilkan cerita secara visual, misalnya dengan menambahkan adegan aksi atau dialog tertentu untuk mempercepat alur. Seperti dalam film 5 Cm meskipun tergolong film yang cukup populer, banyak subplot dan nuansa cerita dalam novel tidak dapat dimasukkan ke dalam film, sehingga membuat alurnya lebih singkat.

Membaca novel memberi kita kekuasaan untuk berimajinasi, membayangkan tokoh, suasana, dan emosi yang dirasakan. Berbeda dengan film yang sudah diatur oleh sutradara sepenuhnya. Inilah sebabnya membaca memberi kesan lebih mendalam daripada menonton film.

Seperti pada novel Assalamualaikum Calon Imam. Saat membaca, novel ini terasa manis dan penuh haru dan emosi. Namun, saat difilmkan ceritanya terkesan lebih sederhana dan banyak menonjolkan adegan konflik. Hal ini terkesan kurang sesuai dengan genre romantis yang menjadi kekuatan utama novel tersebut. Akibatnya, nuansa hangat dan detail perasaan tokoh yang begitu hidup di dalam novel justru memudar di layar lebar.

Membaca novel tidak hanya sebagai media hiburan saja. Bagi generasi muda membaca novel dapat menjadi kesempatan melatih imajinasi, memperkaya kosakata, dan melatih empati. Setiap halaman membawa kita ke tempat baru, dunia baru yang membuat kita lebih peka terhadap perasaan yang dekat dengan kehidupan nyata.

Jadi, meskipun film adaptasi tetap menarik ditonton, membaca novel selalu menawarkan pengalaman yang lebih seru dan mendalam. Lain kali ketika ada film baru dari sebuah novel populer, coba deh baca bukunya dulu. Siapa tahu kamu akan menemukan dunia yang jauh lebih luas daripada yang bisa ditampilkan di layar lebar. Untuk kita para siswa, membaca bukan sekadar hiburan, tetapi juga latihan berpikir, berimajinasi, dan merasakan—hal-hal yang tidak pernah kita dapatkan hanya dengan menonton.

Selasa, 14 Oktober 2025

Jatuh cinta pada bulan

Jatuh cinta pada bulan

Sorot Jendela


Aku jatuh cinta

pada sosok mu yang tampak menawan 

bukan paras mu yang indah

bukan juga senyum mu yang memukau


tapi sosok mu 

yang selalu menyinari malam

tak peduli betapa gelap dan sunyi nya malam

itu lah yang membuatku jatuh cinta


walaupun aku tau

sosok mu akan menghilangkan

saat fajar menyingsing

dan tergantikan oleh matahari 


memang cahaya matahari

lebih terang dari cahayamu

tapi cahaya matahari

tak selembut cahayamu di malam hari


aku akan tetap mencintaimu

walaupun aku tau kau takkan bisa ku gapai

tetapi aku kan tetap cinta padamu 

kau mungkin abadi

sebagai ciptaan tuhan kesukaanku


Oleh: Dimas (Siswa kelas XII)

Kamis, 25 September 2025

Perjalanan dalam Sunyi

Perjalanan dalam Sunyi

Sorot Jendela


 Mencari sesuatu dengan cara berjalan

Tanpa tahu arah dan tujuan

Bagaikan manusia tidak berpedoman


Siapa yang mengerti tentang suatu kehidupan?

Jika bukan diri sendiri yang menjalaninya

Bagaikan ruangan kosong yang terlihat kegelapanya

Ketika ilmu yang tidak ada pada dirinya


Bak  langit yang hanya terlihat kegelapanya

Saat tak ada cahaya bulan yang memancarkannya

Bagaikan seseorang yang mempunyai keinginan

Tetapi hanya impian


Kehidupan tanpa ilmu

Seperti cahaya redup dan semu

Bagunan gelap tidak berlampu

Seperti harapan yang telah berlalu



Karya: Birra Ikrima